Kamis, 17 Desember 2015

A.    Sejarah
Jahe merupakan tanaman obat dan rempah berupa tumbuhan rumpun berbatang semu dan merupakan rimpang dari tanaman bernama ilmiah Zingiber officinale Rosc. Jahe berasal dari Asia Pasifik yang tersebar dari India sampai Cina. Oleh  karena itu kedua bangsa ini disebut sebut sebagai bangsa yang pertama kali memanfaatkan jahe terutama sebagai bahan minuman,bumbu masak dan obat-obatan tradisional. Tanaman jahe di dunia tersebar di daerah tropis, di benua Asia dan Kepulauan Pasifik. Akhir-akhir ini jahe dikembangkan di Jamaica, Brazil, Hawai, Afrika, India, China dan Jepang, Filipina, Australia, Selandia Baru, Thailand dan Indonesia. Jahe tumbuh di Indonesia ditemukan di semua wilayah Indonesia yang ditanam secara monokultur dan polikultur. Dalam dunia perdagangan, penamaan jahe didasarkan kepada daerah asalnya, misal jahe Afrika, jahe Chochin atau jahe Jamika. Sejak 250 tahun yang lalu, jahe di Cina sudah digunakan sebagai bumbu dapur dan obat. Di Malaysia, Filipina, dan Indonesia jahe banyak digunakan sebagai obat tradisional. Sedangkan di Eropa pada abad pertengahan, jahe digunakan sebagai aroma pada bir.

B.     Sistematika dari Klasifikasi
            B.1 Klasifikasi Tanaman Jahe

Divisi  : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas    : Monocotyledoneae
Ordo     : Zingiberales
Famili   : Zingiberaceae
Genus   : Zingiber
Species : Zingiber officinale Rosc. 

Famili Zingiberaceae terdapat di sepanjang daerah tropis dan sub tropis terdiri atas 47 genera dan 1.400 species. Genus Zingiber meliputi 80 species yang salah satu diantaranya adalah jahe yang merupakan species paling penting dan paling banyak manfaatnya. Nama Zingiber berasal dari bahasa Sansakerta ”Singeberi”. Kata ”Singaberi” dalam Bahasa Sansakerta itu berasal dari Bahasa Arab ”Zanzabil” atau Bahasa Yunani ”Zingiberi”.

B.2 Deskripsi Tanaman Jahe
Tanaman jahe tergolong terna berbatang semu, tinggi 30 cm sampai 1 m, rimpang bila dipotong berwarna kuning atau jingga. Rimpang jahe berkulit agak tebal membungkus daging umbi yang berserat dan berwarna coklat beraroma khas. Bentuk daun bulat panjang dan tidak lebar (sempit). Berdaun tunggal, berbentuk lanset dengan panjang 15–23 mm, lebar 8–15 mm; tangkai daun berbulu, panjang 2-4 mm; bentuk lidah daun memanjang, dengan panjang 7,5–10 mm, dan tidak berbulu. Perbungaan berupa malai tersembul dipermukaan tanah, berbentuk tongkat atau bundar telur yang sempit, 2,75–3 kali lebarnya, sangat tajam; panjang malai 3,5–5 cm, lebar 1,5–1,75 cm gagang bunga hampir tidak berbulu, panjang 25 cm, rahis berbulu jarang; sisik pada gagang terdapat 5 – 7 buah,berbentuk lanset, letaknya berdekatan atau rapat, hampir tidak berbulu, panjang sisik 3 – 5 cm. Bunga memiliki 2 kelamin dengan 1 benang sari dan 3 putik bunga daun pelindung berbentukbundar telur terbalik, bundar pada ujungnya, tidak  berbulu, berwarna hijau cerah, panjang 2,5 cm,lebar 1 – 1,75 cm ; mahkota bunga berbentuk tabung 2 – 2,5 cm, helainya agak sempit,berbentuk tajam, berwarna kuning kehijauan, panjang 1,5 – 2,5 mm, lebar 3 –3,5mm,bibir berwarna ungu, gelap, berbintik-bintik berwarna putih kekuningan, panjang 12 – 15 mm ; kepala sari berwarna ungu, panjang 9 mm ; tangkai putik ada 2.

B.3 Jenis Tanaman
Jahe dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan ukuran, bentuk dan warna rimpangnya. Umumnya dikenal 3 varietas jahe, yaitu :
1) Jahe putih/kuning besar atau disebut juga jahe gajah atau jahe badak
Rimpangnya lebih besar dan gemuk, ruas rimpangnya lebih menggembung dari kedua varietas lainnya. Jenis jahe ini bias dikonsumsi baik saat berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe olahan.
2) Jahe putih/kuning kecil atau disebut juga jahe sunti atau jahe emprit
Ruasnya kecil, agak rata sampai agak sedikit menggembung. Jahe ini selalu dipanen setelah berumur tua. Kandungan minyak atsirinya lebih besar dari pada jahe gajah, sehingga rasanya lebih pedas, disamping             seratnya tinggi. Jahe ini cocok untuk ramuan obat-obatan, atau untuk          diekstrak oleoresin dan minyak atsirinya.
3) Jahe merah
Rimpangnya berwarna merah dan lebih kecil dari pada jahe putih kecil. Sama seperti jahe kecil, jahe merah selalu dipanen setelah tua, dan juga memiliki kandungan minyak atsiri yang sama dengan jahe kecil, sehingga cocok untuk ramuan obat-obatan.

C.    Teknik Budidaya
C.1 Pembibitan
a.       Persyaratan Bibit
1)         Bibit berkualitas adalah bibit yang memenuhi syarat mutu genetik, mutu.
2)         fisiologik (persentase tumbuh yang tinggi), dan mutu fisik. Yang dimaksud dengan mutu fisik adalah bibit yang bebas hama dan penyakit. Olehkarena itu kriteria yang harus dipenuhi antara lain:
-      Bahan bibit diambil langsung dari kebun (bukan dari pasar).
-      Dipilih bahan bibit dari tanaman yang sudah tua (berumur 9-10 bulan).
-      Dipilih pula dari tanaman yang sehat dan kulit rimpang tidak terlukaatau lecet.
b.      Teknik Penyemaian Bibit
           1)      Untuk pertumbuhan tanaman yang serentak atau seragam, bibit jangan langsung ditanam               sebaiknya terlebih dahulu dikecambahkan. Penyemaian bibit dapat dilakukan dengan peti               kayu atau dengan bedengan.
a. Penyemaian pada peti kayu
Rimpang jahe yang baru dipanen dijemur sementara (tidak sampaikering), kemudian disimpan sekitar 1-1,5 bulan. Patahkan rimpangtersebut dengan tangan dimana setiap potongan memiliki 3-5 matatunas dan dijemur ulang 1/2-1 hari. Selanjutnya potongan bakal bibittersebut dikemas ke dalam karung beranyaman jarang, lalu dicelupkan dalam larutan fungisida dan zat pengatur tumbuh sekitar 1 menitkemudian keringkan.Setelah itu dimasukkan kedalam peti kayu.
Lakukan cara penyemaian dengan peti kayu sebagai berikut: pada bagian dasar peti kayu diletakkan bakal bibit selapis, kemudian di atasnya diberi abu gosok atau sekam padi, demikian seterusnya sehingga yang paling atas adalah abu gosok atau sekam padi tersebut. Setelah 2-4 minggu lagi, bibit jahe tersebut sudah disemai.
b. Penyemaian pada bedengan
Buat rumah penyemaian sederhana ukuran 10 x 8 m untuk menanam bibit 1 ton (kebutuhan jahe gajah seluas 1 ha). Di dalam rumah penyemaian tersebut dibuat bedengan dari tumpukan jerami setebal 10 cm. Rimpang bakal bibit disusun pada bedengan jerami lalu ditutup jerami, dan di atasnya diberi rimpang lalu diberi jerami pula, demikian seterusnya, sehingga didapatkan 4 susunan lapis rimpang dengan bagian atas berupa jerami. Perawatan bibit pada bedengan dapat dilakukan dengan penyiraman setiap hari dan sesekali disemprot dengan fungisida. Setelah 2 minggu, biasanya rimpang sudah bertunas. Bila bibit bertunas dipilih agar tidak terbawa bibit berkualitas rendah. Bibit hasil seleksi itu dipatah-patahkan dengan tangan dan setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas dan beratnya 40-60 gram.
       2) Penyiapan Bibit
           Sebelum ditanam, bibit harus dibebaskan dari ancaman penyakit dengan cara bibit tersebut                  dimasukkan ke dalam karung dan dicelupkan ke dalam larutan fungisida sekitar 8 jam.                        Kemudian bibit dijemur 2-4 jam, barulah ditanam.

C.2. Pengolahan Media Tanam
1) Persiapan Lahan
Untuk mendapatkan hasil panen yang optimal harus diperhatikan syaratsyarat tumbuh yang dibutuhkan tanaman jahe. Bila keasaman tanah yang ada tidak sesuai dengan keasaman tanah yang dibutuhkan tanaman jahe, maka harus ditambah atau dikurangi keasaman dengan kapur.
2) Pembukaan Lahan
Pengolahan tanah diawali dengan dibajak sedalam kurang lebih dari 30 cm dengan tujuan untuk mendapatkan kondisi tanah yang gembur atau remah dan membersihkan tanaman pengganggu. Setelah itu tanah dibiarkan 2-4 minggu agar gas-gas beracun menguap serta bibit penyakit dan hama akan mati terkena sinar matahari. Apabila pada pengolahan tanah pertama dirasakan belum juga gembur, maka dapat dilakukan pengolahan tanah yang kedua sekitar 2-3 minggu sebelum tanam dan sekaligus diberikan pupuk kandang dengan dosis 1.500-2.500 kg.
3) Pembentukan Bedengan
Pada daerah-daerah yang kondisi air tanahnya jelek dan sekaligus untuk mencegah terjadinya genangan air, sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan engan ukuran tinggi 20-30 cm, lebar 80-100 cm, sedangkan anjangnya disesuaikan dengan kondisi lahan.
4) Pengapuran
Pada tanah dengan pH rendah, sebagian besar unsur-unsur hara didalamnya, Terutama fosfor (p) dan calcium (Ca) dalam keadaan tidak tersedia atau sulit diserap. Kondisi tanah yang masam ini dapat menjadi media perkembangan beberapa cendawan penyebab penyakit fusarium sp dan pythium sp.
Pengapuran juga berfungsi menambah unsur kalium yang sangat diperlukan tanaman untuk mengeraskan bagian tanaman yang berkayu, merangsang pembentukan bulu-bulu akar, mempertebal dinding sel buah dan merangsang pembentukan biji.
a. Derajat keasaman < 4 (paling asam): kebutuhan dolomit > 10 ton/ha.
b. Derajat keasaman 5 (asam): kebutuhan dolomit 5.5 ton/ha.
c. Derajat keasaman 6 (agak asam): kebutuhan dolomit 0.8 ton/ha.

C.3. Teknik Penanaman
1) Penentuan Pola Tanaman
Pembudidayaan jahe secara monokultur pada suatu daerah tertentu memang dinilai cukup rasional, karena mampu memberikan produksi dan produksi tinggi. Namun di daerah, pembudidayaan tanaman jahe secara monokultur kurang dapat diterima karena selalu menimbulkan kerugian. Penanaman jahe secara tumpangsari dengan tanaman lain mempunyai keuntungan-keuntungan sebagai berikut:
a. Mengurangi kerugian yang disebabkan naik turunnya harga.
b. Menekan biaya kerja, seperti: tenaga kerja pemeliharaan tanaman.
c. Meningkatkan produktivitas lahan.
d. Memperbaiki sifat fisik dan mengawetkan tanah akibat rendahnya pertumbuhan gulma (tanaman pengganggu).
Praktek di lapangan, ada jahe yang ditumpangsarikan dengan sayur-sayuran, seperti ketimun, bawang merah, cabe rawit, buncis dan lain-lain. Ada juga yang ditumpangsarikan dengan palawija, seperti jagung, kacang tanah dan beberapa kacang-kacangan lainnya.
2) Pembutan Lubang Tanam
Untuk menghindari pertumbuhan jahe yang jelek, karena kondisi air tanah
yang buruk, maka sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan. Selanjutnya buat lubang-lubang kecil atau alur sedalam 3-7,5 cm untuk menanam bibit.
3) Cara Penanaman
Cara penanaman dilakukan dengan cara melekatkan bibit rimpang secara
rebah ke dalam lubang tanam atau alur yang sudah disiapkan.
4) Periode Tanam
Penanaman jahe sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan sekitar bulan September dan Oktober. Hal ini dimungkinkan karena tanaman muda akan membutuhkan air cukup banyak untuk pertumbuhannya.

C.4. Pemeliharaan Tanaman
1) Penyulaman
Sekitar 2-3 minggu setelah tanam, hendaknya diadakan untuk melihat rimpang yang mati. Bila demikian harus segera dilaksanakan penyulaman agar pertumbuhan bibit sulaman itu tidak jauh tertinggal dengan tanaman lain, maka sebaiknya dipilih bibit rimpang yang baik serta pemeliharaan yang benar.
2) Penyiangan
Penyiangan pertama dilakukan ketika tanaman jahe berumur 2-4 minggu
kemudian dilanjutkan 3-6 minggu sekali. Tergantung pada kondisi tanaman pengganggu yang tumbuh. Namun setelah jahe berumur 6-7 bulan, sebaiknya tidak perlu dilakukan penyiangan lagi, sebab pada umur tersebut rimpangnya mulai besar.
3) Pembubunan
Tanaman jahe memerlukan tanah yang peredaran udara dan air dapat berjalan dengan baik, maka tanah harus digemburkan. Disamping itu tujuan pembubunan untuk menimbun rimpang jahe yang kadang-kadang muncul ke atas permukaan tanah. Apabila tanaman jahe masih muda, cukup tanah dicangkul tipis di sekeliling rumpun dengan jarak kurang lebih 30 cm. Pada bulan berikutnya
dapat diperdalam dan diperlebar setiap kali pembubunan akan berbentuk gubidan dan sekaligus terbentuk sistem pengairan yang berfungsi untuk menyalurkan kelebihan air.
Pertama kali dilakukan pembumbunan pada waktu tanaman jahe berbentuk rumpun yang terdiri atas 3-4 batang semu, umumnya pembubunan dilakukan 2-3 kali selama umur tanaman jahe. Namun tergantung kepada kondisi tanah dan banyaknya hujan.
4) Pemupukan
a. Pemupukan Organik
Pada pertanian organik yang tidak menggunakan bahan kimia termasuk pupuk buatan dan obat-obatan, maka pemupukan secara organik yaitu dengan menggunakan pupuk kompos organik atau pupuk kandang dilakukan lebih sering disbanding kalau kita menggunakan pupuk buatan. Adapun pemberian pupuk kompos organik ini dilakukan pada awal pertanaman pada saat pembuatan guludan sebagai pupuk dasar sebanyak 60 – 80 ton per hektar yang ditebar dan dicampur tanah olahan. Untuk menghemat pemakaian pupuk kompos dapat juga dilakukan dengan jalan mengisi tiap-tiap lobang tanam di awal pertanaman sebanyak 0.5 – 1kg per tanaman. Pupuk sisipan selanjutnya dilakukan pada umur 2 – 3 bulan, 4 – 6 bulan, dan 8 – 10 bulan. Adapun dosis pupuk sisipan sebanyak 2 – 3 kg per tanaman. Pemberian pupuk kompos ini biasanya dilakukan setelah kegiatan penyiangan dan bersamaan dengan kegiatan pembubunan.
b. Pemupukan Konvensional
Selain pupuk dasar (pada awal penanaman), tanaman jahe perlu diberi pupuk susulan kedua (pada saat tanaman berumur 2-4 bulan). Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk organik 15-20 ton/ha. Pemupukan tahap kedua digunakan pupuk kandang dan pupuk buatan (urea 20 gram/pohon; TSP 10 gram/pohon; dan ZK 10 gram/pohon), serta K2O (112 kg/ha) pada tanaman yang berumur 4 bulan. Pemupukan juga dilakukan dengan pupuk nitrogen (60 kg/ha), P2O5 (50 kg/ha), dan K2O (75 kg/ha). Pupuk P diberikan pada awal tanam, pupuk N dan K diberikan pada awal tanam (1/3 dosis) dan sisanya (2/3 dosis) diberikan pada saat tanaman berumur 2 bulan dan 4 bulan. Pupuk diberikan dengan ditebarkan secara merata di sekitar tanaman atau dalam bentuk alur dan ditanam di sela-sela tanaman
5) Pengairan dan Penyiraman
Tanaman Jahe tidak memerlukan air yang terlalu banyak untuk pertumbuhannya, akan tetapi pada awal masa tanam diusahakan penanaman pada awal musim hujan sekitar bulan September;
6) Waktu Penyemprotan Pestisida
Penyemprotan pestisida sebaiknya dilakukan mulai dari saat penyimpanan bibit yang untuk disemai dan pada saat pemeliharaan. Penyemprotan pestisida pada fase pemeliharaan biasanya dicampur dengan pupuk organik cair atau vitamin-vitamin yang mendorong pertumbuhan jahe.

D.     Kegunaan dan Manfaat
Jahe (Zingiber officinale (L.) Rosc.) mempunyai kegunaan yang cukup beragam, antara lain sebagai rempah, minyak atsiri, pemberi aroma, ataupun sebagai obat (Bartley dan Jacobs 2000). Secara tradisional, kegunaannya antara lain untuk mengobati penyakit rematik, asma, stroke, sakit gigi, diabetes, sakit otot, tenggorokan, kram, hipertensi, mual, demam dan infeksi (Ali et al. 2008; Wang dan Wang 2005; Tapsell et al. 2006). Jahe biasanya aman sebagai obat herbal (Weidner dan Sigwart 2001). Dilaporkan juga beberapa efek samping akibat konsumsi jahe seperti diare ringan atau reaksi alergi ringan. Efek samping terutama terjadi bila jahe dikonsumsi mentah. Hasil penelitian farmakologi menyatakan bahwa senyawa antioksidan alami dalam jahe cukup tinggi dan sangat efisien dalam menghambat radikal bebas superoksida dan hidroksil yang dihasilkan oleh sel-sel kanker, dan bersifat sebagai antikarsinogenik, non-toksik dan non-mutagenik pada konsentrasi tinggi (Manju dan Nalini 2005).
Jahe dilaporkan dapat mengurangi resiko penyakit jantung dan meningkatkan performan dari jantung selama olah raga, karena memberikan efek relaks dalam tubuh. Selain itu, dapat mengurangi berat badan dan mengurangi mual dan muntah pada ibu hamil. Secara invitro telah dibuktikan bahwa bahan aktif dalam jahe berpotensi dan prospektif untuk mengobati penyakit Alzheimer (Kim et al. 2002), penyakit kronik seperti diabetes (Sekiya et al. 2004), dan hipertensi (Ghayur dan Gilani 2005). Untuk mencegah mabuk laut, telah dicobakan supplemen jahe terhadap 1741 orang turis dengan dosis 250 mg setiap 2 jam, hasilnya menunjukkan sangat efektif sama seperti bila mengkonsumsi obat untuk mencegah mabuk laut (Schmid et al. 1994).
Jahe tidak mengandung lemak dan gula sehingga dapat ditambahkan pada produk makanan untuk meningkatkan aroma tanpa penambahan kalori. Di India dan China, teh jahe yang dibuat dari jahe segar tidak hanya mengurangi berat badan tetapi dapat membantu pencernaan. Enzim jahe dapat mengkatalisa protein di dalam pencernaan sehingga tidak menimbulkan mual. Bubuk jahe dapat digunakan sebagai obat-obatan untuk produksi obat-obatan herbal dalam pengobatan demam dingin. Jahe segar telah digunakan dalam produksi anggur jahe dan jus yang digunakan sebagai minuman. Ada beberapa perusahaan swasta, yang terlibat dalam pembuatan pasta jahe dan produk berbasis jahe. Produk-produk dari jahe seperti teh jahe digunakan sebagai karminatif dan mengobati demam, di China digunakan sebagai tonik. Di Inggris, jahe ditambahkan pada bir untuk mengobati diare, mual dan muntah. Ekstrak jahe dicampur dengan asiatikosida dari pegagan dapat mengurangi selulit. Jahe dikenal mempunyai aktivitas sebagai antioksidan yang akan membantu menetralisir radikal bebas dan dapat menghambat kolagenase elastisitas pada kulit sehingga dapat digunakan sebagai antiselulit (Murad dan Marina 2002).


E.    Kandungan Bioaktif
Rasa khas jahe pada oleoresin jahe merah disebabkan adanya komponen non volatil, sedangkan aromanya ditimbulkan oleh adanya komponen volatil yaitu minyak atsiri jahe merah. Adanya flavor dan aroma khas jahe pada oleoresin jahe merah dikarenakan ekstraksi dengan pelarut mampu mengekstrak hampir semua komponen volatil dan non volatil yang terkandung dalam bubuk jahe merah kering. Jumlah minyak atsiri dalam oleoresin mempengaruhi kualitas oleoresin karena minyak atsiri yang bersifat volatil sangat menentukan aroma oleoresin tersebut. Semakin banyak kandungan minyak atsiri dalam oleoresin maka kualitas oleoresin semakin baik (Lestari, 2006).
Senyawa bioaktif yang terkandung dalam rimpang jahe, yaitu senyawa phenolic (shogaol dan gingerol) dan minyak atsiri, seperti bisapolen, zingiberen, zingiberol, curcurmen, 6-dehydrogingerdion, galanolakton, asam gingesulfonat, zingeron, geraniol, neral, monoakyldigalaktosylglykerol, gingerglycolipid. Senyawa zingeberen, merupakan senyawa yang sangat penting mengingat akan memberikan aroma pedas pada jahe. Beberapa senyawa bioaktif yang tekandung dalam jahe tersebut dapat diperoleh dari beberapa varitas, seperti jahe gajah, jahe merah dan jahe emprit. (Supriyanto dan Cahyono, 2012).
Oleoresin jahe mengandung komponen-komponen pemberi rasa pedas yaitu gingerol sebagai bahan utama, shogaol dan zingeron dalam jumlah sedikit. Jahe kering mengandung oleoresin yang terdiri dari gingerol, zingiberol, shagaol dan zingiberen sekitar 0,5-5,3%. Jahe segar 0,4-3,1%, tergantung umur panen dan tumbuhnya. Semakin tua umur umbi akar jahe besar kandungan oleoresinnya. Di dalam oleoresin terdapat persenyawan kimia gingerol 1,1-2,2% yang memberikan rasa pedas dan zingiberol sekitar 0,04% (Lestari, 2006).

F.    Panen dan Pasca Panen
1.      Panen
a.       Ciri dan Umur Panen
Pemanenan dilakukan tergantung dari penggunaan jahe itu sendiri. Bila kebutuhan untuk bumbu penyedap masakan, maka tanaman jahe sudah bias ditanam pada umur kurang lebih 4 bulan dengan cara mematahkan sebagian rimpang dan sisanya dibiarkan sampai tua.
Apabila jahe untuk dipasarkan maka jahe dipanen setelah cukup tua. Umur tanaman jahe yang sudah bisa dipanen antara 10-12 bulan, dengan ciri-ciri warna daun berubah dari hijau menjadi kuning dan batang semua mengering. Misal tanaman jahe gajah akan mengering pada umur 8 bulan dan akan berlangsung selama 15 hari atau lebih.
b.      Cara Panen
Cara panen yang baik, tanah dibongkar dengan hati-hati menggunakan alat garpu atau cangkul, diusahakan jangan sampai rimpang jahe terluka. Selanjutnya tanah dan kotoran lainnya yang menempel pada rimpang dibersihkan dan bila perlu dicuci. Sesudah itu jahe dijemur di atas papan atau daun pisang kira-kira selama 1 minggu. Tempat penyimpanan harus terbuka, tidak lembab dan penumpukannya jangan terlalu tinggi melainkan agak disebar.
c.       Periode Panen
Waktu panen sebaiknya dilakukan sebelum musim hujan, yaitu diantara bulan Juni – Agustus. Saat panen biasanya ditandai dengan mengeringnya bagian atas tanah. Namun demikian apabila tidak sempat dipanen pada musim kemarau tahun pertama ini sebaiknya dilakukan pada musim kemarau tahun berikutnya. Pemanenan pada musim hujan menyebabkan rusaknya rimpang dan menurunkan kualitas rimpang sehubungan dengan rendahnya bahan aktif karena lebih banyak kadar airnya.
d.      Perkiraan Hasil Panen
Produksi rimpang segar untuk klon jahe gajah berkisar antara 15-25 ton/hektar, sedangkan untuk klon jahe emprit atau jahe sunti berkisar antara 10-15 ton/hektar.
2.      Pasca Panen
a.       Sortasi Basah dan Pencucian
Sortasi pada bahan segar dilakukan untuk memisahkan rimpang dari kotoran berupa tanah, sisa tanaman, dan gulma. Setelah selesai, timbang jumlah bahan hasil penyortiran dan tempatkan dalam wadah plastik untuk pencucian. Pencucian dilakukan dengan air bersih, jika perlu disemprot dengan air bertekanan tinggi. Amati air bilasannya dan jika masih terlihat kotor lakukan pembilasan sekali atau dua kali lagi. Hindari pencucian yang terlalu lama agar kualitas dan senyawa aktif yang terkandung didalam tidak larut dalam air. Pemakaian air sungai harus dihindari karena dikhawatirkan telah tercemar kotoran dan banyak mengandung bakteri/penyakit. Setelah pencucian selesai, tiriskan dalam tray/wadah yang belubang-lubang agar sisa air cucian yang tertinggal dapat dipisahkan, setelah itu tempatkan dalam wadah plastik/ember.
b.      Perajangan
Jika perlu proses perajangan, lakukan dengan pisau stainless steel dan alasi bahan yang akan dirajang dengan talenan. Perajangan rimpang dilakukan melintang dengan ketebalan kira-kira 5 mm – 7 mm. Setelah perajangan, timbang hasilnya dan taruh dalam wadah plastik/ember. Perajangan dapat dilakukan secara manual atau dengan mesin pemotong.
c.       Pengeringan
Pengeringan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan sinar matahari atau alat pemanas/oven. pengeringan rimpang dilakukan selama 3 - 5 hari, atau setelah kadar airnya dibawah 8%. pengeringan dengan sinar matahari dilakukan diatas tikar atau rangka pengering, pastikan rimpang tidak saling menumpuk. Selama pengeringan harus dibolak-balik kira-kira setiap 4 jam sekali agar pengeringan merata. Lindungi rimpang tersebut dari air, udara yang lembab dan dari bahan-bahan disekitarnya yang bisa mengkontaminasi. Pengeringan di dalam oven dilakukan pada suhu 50oC - 60oC. Rimpang yang akan dikeringkan ditaruh di atas tray oven dan pastikan bahwa rimpang tidak saling menumpuk. Setelah pengeringan, timbang jumlah rimpang yang dihasilkan.
d.      Penyortiran Kering.
Selanjutnya lakukan sortasi kering pada bahan yang telah dikeringkan dengan
cara memisahkan bahan-bahan dari benda-benda asing seperti kerikil, tanah atau kotoran-kotoran lain. Timbang jumlah rimpang hasil penyortiran ini (untuk menghitung rendemennya).
e.       Pengemasan
Setelah bersih, rimpang yang kering dikumpulkan dalam wadah kantong plastik atau karung yang bersih dan kedap udara (belum pernah dipakai sebelumnya). Berikan label yang jelas pada wadah tersebut, yang menjelaskan nama bahan, bagian dari tanaman bahan itu, nomor/kode produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih dan metode penyimpanannya.
f.       Penyimpanan
Kondisi gudang harus dijaga agar tidak lembab dan suhu tidak melebihi 30oC dan gudang harus memiliki ventilasi baik dan lancar, tidak bocor, terhindar dari kontaminasi bahan lain yang menurunkan kualitas bahan yang bersangkutan, memiliki penerangan yang cukup (hindari dari sinar matahari langsung), serta bersih dan terbebas dari hama gudang.


  

DAFTAR PUSTAKA
Hasanah,Y dan Julianti,Elisa. 2008. Budidaya dan Teknologi Pasca Panen Jahe.
USU Press. Medan.

Hernani dan Winarti,Christina.(tidak diterbitkan). Kandungan Bahan Aktif Jahe
Dan Pemanfaatannya Dalam Bidang Kesehatan. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Bogor. Hal. 125-142

Lestari, W.E.W. 2006. Pengaruh Nisbah Rimpang dengan Pelarut dan Lama Ekstraksi Terhadap Mutu Oleoresin Jahe Merah (Zingiber officinale var. rubrum). Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Sembiring,Bagem S dan Yuliani,Sri.(tidak diterbitkan). Penanganan Dan Pengolahan Rimpang Jahe Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Bogor. Hal 111-124.

Supriyanto dan B. Cahyono. 2012. Perbandingan Kandungan Munyak Atsiri Antara Jahe Segar dan Jahe Kering. Chem. Prog. 5(2) : 81-85.

Selasa, 15 Desember 2015

Nama lengkap penulis yaitu Lutviyana Abdul Rahman, lahir di Cianjur pada tanggal 22 Oktober 1995, merupakan anak ke-1 dari 4 bersaudara dari pasangan Bapak Jajang Kamaludin dan Ibu Dianah. Penulis berkebangsaan Indonesia dan beragama Islam. Kini penulis beralamat di Jalan Gunung Muria No: 70, Kelurahan: Grendeng, Kecamatan: Purwokerto Utara, Kabupaten: Banyumas, Provinsi: Jawa Tengah.
Adapun riwayat pendidikan penulis, pada tahun 2006 lulus dari SDN SP2 Air Kumbang Padang, Banyuasin. Pada tahun 2009 lulus dari MTS Mamba'ul Ulum, Cianjur. Dan melanjutkan ke SMAN 21 Palembang lulus tahun 2013, Serta di tahun yang sama penuis melanjutkan pendidikannya kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto dengan mengambil jurusan Agroteknologi Pertanian.

Kamis, 10 Desember 2015


Penanaganan dari aspek budidaya
Duku merupakan salah satu buah yang mempunyai nilai ekonomi dan merupakan komoditas unggulan yang perlu dilestarikan.  Perbanyakan tanaman duku yang salama ini dilakukan petani adalah dengan menggunakan bibit yang berasal dari biji.   Sistim ini memiliki beberapa kelemahan, seperti : masa tunggu tanaman untuk berbuah berkisar antara 20-25 tahun.   Selain itu tanaman yang dihasilkan tidak selalu sama kualitasnya dengan tanaman induknya.  Upaya yang bisa ditempuh untuk mengatasi masalah tersebut adalah melalui sistim perbanyakan vegetatif.

1. Perbanyakan vegetativ dengan metode sambung pucuk
Sambung pucuk adalah bagian pucuk tanaman yang berasal dari biji (batang bawah) dengan entres pohon induk yang telah berproduksi sehingga membentuk suatu tanaman gabungan yang dapat hidup terus dan berproduksi, Sambung pucuk akan menjamin batang atas memiliki kualitas genetik sama dengan induknya, juga dapat memperpendek masa tunggu dimana umur 5-6 tahun sudah berbuah.   Tehnik sambung pucuk mempunyai tingkat keberhasilan (prosentase hidup) yang lebih tinggi dibanding teknik okulasi, karena pohon duku mempunyai kulit yang tipis dan bergetah banyak, sehingga untuk mengambil mata okulasinya agak sulit (mata tunas mudah sobek), sedangkan dengan teknik cangkok duku, bibit yang dihasilkan mempunyai akar yang kurang kokoh dibanding dengan bibit hasil sambung pucuk.
TEKNIK SAMBUNG PUCUK
Persyaratan batang bawah :
- Diameter batang bawah berukuran minimal 1cm
- Tidak terserang hama dan penyakit
- Pertumbuhan subur
Persyaratan batang atas :
- Berasal dari pohon yang sudah berbuah dengan kualitas buah yang baik (bentuk buah sempurna dan manis rasanya).
- Tahan terhadap hama dan penyakit
Peralatan dan bahan yang diperlukan:
1. Pisau tajam, untuk memotong dan membelah batang bawah
2. Tali plastik untuk mengikat sambungan
3. Sungkup (untuk menutup hasil sambung pucuk agar tidak terkena langsung sinar matahari dan hujan)
Langkah-langkah penyambungan
1, Siapkan batang bawah yang sudah memenuhi persyaratan untuk dilakukan penyambungan
2. Bagian atas batang bawah dipotong dan ujungnya di belah (3-5cm)
3. Ujung pucuk batang atas (ukuran sama dengan batang bawah) dipotong membentuk mata kapak sepanyang 5 – 10 cm, daun pada batang atas dapat dibuang atau dipotong separuh, untuk mengurangi penguapan.
4. Potongan batang atas yang sudah disiapkan tadi disisipkan pada batang bawah,ikat dengan tali plastik.
5. Sambungan ditutup dengan kantong plastik, mulai dari ujung batang atas sampai batas sambungan dengan batang bawah dan ikat rapat.
6. Lakukan penyiraman secara teratur pada bagian akar batang bawah
7. Setelah 2 minggu, lakukan pemeriksaan, jika sambungan tetap segar maka sambungan berhasil, tapi jika layu berarti sambungan gagal.
8. Bila pucuk baru tumbuh, plastik penutup dapat di buka, dan jika sambungan sudah cukup kuat (lebih kurang 1- 1.5 bln setelah penyambungan) tali pengikat sambungan dapat di lepas.
9. Selanjutnya dilakukan pemeliharaan berupa pemupukan 2 minggu sekali 5-10 gram per pohon, penyiraman 2 hari sekali, penyiangan, pengendalian OPT secara terpadu.
10. Jika polibagnya kecil, maka diganti dengan polibag yang ukurannya besar 30 X 25 cm
(sumber : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian(BPTP- Jambi)


2. pencangkokan 
Sediakan pisau tajam atau pisau okulasi untuk alat penyayat, sabut kelapa, kantung plastic, tali pengikat, media tanam berupa campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1, dan hormone perangsang pertumbuhan akar Rootone F.  Cabang tanaman yang akan dicangkok dipilih yang ampak akar sudah berukuran sebesar jari manis atau ibu jari kaki, sehat dan tidak ada bagian yang cacat. 

Proses pengerjaannya dengan cara cangkokan:
dimulai dengan mengupas kulitnya sepanjang 2,5 cm. keratin “atas” harus tepat terletak 0,5 cm di atas buku (bekas tumbuh daun atau calon tunas), sedangkan keratin “bawah” 2 cm di bawah buku. Karena disinilah akar cangkokan lekas tumbuh. Setelah kulitnya terkelupas, kambiumnya dikerok sampai bersih. Olesi luka sayatan dibagian atas dengan Rootone F, lalu diberi media sabut kelapa atau mos, ditutup plastic dan diikat tali. 

Kalau tidak turun hujan, bibit cangkokan yang masih berada di pohon itu harus disiram setiap hari. Sebulan kemudian, tampak akar cangkokan sudah mulai bermunculan dari sela-sela media. Kalau akarnya sudah berwarna kecokelatan, bibit cangkokan yang berada di pohon itu bisa dipotong. 

Selanjutnya bibit itu disemai selama 3 – 4 bulan di tempat teduh atau tempat penyemaian khusus, sebelum siap ditanam di kebun. Penyemaian dilakukan dalam kantong plastik hitam atau polybag berukuran 14 cm x 18 cm, berisi media tanam berupa campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1 ditambah 5 gram NPK per kantong. Pemupukan tambahan NPK dilakukan sebulan sekali. 

3. Pembiakan vegetativ dengan cara okulasi 
Pada perbanyakan secara okulasi diperlukan bibit batang bawah berasal dari biji yang sudah berumur di atas dua tahun, kondisinya sehat dan ukuran batangnya minimal sudah sebesar jari telunjuk. Sebagai calon bibit tempelnya dipilih mata okulasi dari cabang pohon induk yang besaranya seukuran dengan bibit batang bawahnya, kulitnya sudah hijau keabuan atau kecokelatan, mata tunasnya sudah menonjol atau terlihat pecah. 
Kalau mata tunas pada cabang itu masih terlihat rata, ujung cabang di atas mata okulasi yang akan di pergunakan itu bisa di potong agar cepat tumbuh menonjol. Tunggu selama 15 hari. Kalau ternyata mata tunas yang rata sudah kelihatan menonjol atau pecah, mata tunas itu tinggal di sayat untuk di pindah tempelkan. Cara penyayatannya, kulit dikupas kira-kira 1 cm dari mata tumbuhnya. 
Bibit batang bawah yang akan ditempeli mata tunas itu dikupas kulitnya pada bagian setinggi 15 cm dari permukaan tanah. Pengupasannya di lakukan melintang dengan ukuran sebesar sayatan kulit mata okulasinya, panjangnya 3 cm, lalu hasil sayatannya di buang 2/3-nya.  Segera mata okulasi itu di tempelkan. Sisa kupasan kulit bibit batang bawah ditutupkan pada mata okulasi lalu di ikat erat-erat pakai tali, tapi jangan sampai mata tunasnya tertutup ikatan talinya.
Taruh bibit yang baru di sambung itu di tempat teduh. Sekitar 3-4 minggu kemudian balutan talinya di buka. Kalau warna kulit okulannya masih hijau, berarti pekerjaan pembibitan secara okulasi itu berhasil.  Sepuluh hari kemudian batang di atas tempelan dipatahkan. Seteah mata tunas okulasi tumbuh setinggi 10-20 cm, batang atas yang telah di patahkan itu di potong habis. Selanjutnya bibit itu bisa di pindahkan dalam polybag yang lebih besar, lalu di semai selama 3-4 bulan seperti hal nya bibit cangkokan.

Penananganan  pasca panen
Panen duku merupakan suatu kegiatan yang dinanti-nanti oleh petani duku untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, yaitu produksi duku yang melimpah. Tentunya produksi yang melimpah ini tidak terlepas dari penerapan budidaya duku yang benar. Panen buah duku harus memperhatikan tingkat kematangan buah yang tepat untuk menjaga kesegaran buah sehingga buah duku sampai kepada konsumen dalam keadaan buah duku masih bermutu baik. Ciri-ciri buah duku yang tepat untuk dipanen , yaitu ukuran buah mencapai maksimal ; berumur empat bulan dihitung dari bunga muncul; kulit buah berubah warna dari warna hijau menjadi warna kecoklatan; mengeluarkan aroma khas buah duku. Panen duku sebaiknya dilakukan pada keadaan cuaca terang atau tidak hujan, supaya buah duku tidak kena basah atau lembab. Panen duku dilakukan dengan memotong ujung percabangan dibawah tangkai buah minimal sepanjang 20 cm. Buah duku yang telah dipanen diturunkan dengan hati-hati tidak boleh dijatuhkan karena buah akan rusak atau memar. Buah duku ketika dipetik tidak boleh dilepas berongsongnya. Panen pertama tanaman duku umumnya dilakukan pada umur sekitar lima tahun dengan produksi sekitar 5 kg/pohon/tahun. Untuk tahun berikutnya produksi duku meningkat sehingga mencapai 175 – 200 kg/pohon/tahun.
Buah duku yang telah dipetik harus segera diangkut dari kebun ke tempat pengumpulan buah. Mungkin tidak menjadi masalah, jika jarak dari areal kebun ke tempat pengumpulan tidak jauh. Namun sebaliknya, bila jarak tersebut cukup jauh, perlu disiapkan cara dan alat khusus untuk mengangkut buah duku tersebut agar tidak rusak sampai ke tempat tujuan.
Sebelum diangkut , sebaiknya buah duku dimasukkan dalam wadah , misalnya keranjang bambu, karung goni. Untuk pengangkutan buah duku harus tetap dijaga jangan sampai terkena benturan dengan benda lain sehingga menimbulkan memar yang mengakibatkan menurunnya kualitas buah duku.
Tempat pengumpulan berfungsi sebagai tempat untuk menerima buah duku yang berasal dari petani buah duku. Peralatan yang perlu disediakan ditempat pengumpulan , antara lain timbangan, meja sortasi dan alat-alat pengemasan. Untuk menjaga kesegaran buah duku , diusahakan agar buah duku tidak terkena secara langsung cahaya matahari. Karena itu, tempat pengumpulan sebaiknya perlu dilengkapi dengan atap. Kegiatan yang sering dilakukan ditempat pengumpulan ,antara lain sortasi, grading dan pengemasan.
Dalam skala usaha komersial, buah duku yang sudah dipanen harus disortir terlebih dahulu. Sortasi dilakukan berdasarkan ukuran buah duku, sekaligus juga membuang buah duku yang busuk atau cacat serta membuang tandannya. Buah duku tidak bisa dijual bila masih ada tandannya atau tangkainya, karena orang lebih suka membeli duku tanpa ada tandan atau tangkainya.
Grading dilakukan untuk mengelompokkan buah duku yang seragam baik ukuran maupun kualitasnya, sehingga akan mempermudah penyusunan pada saat pengemasan. Kegiatan grading ini dapat menambah daya tarik buah duku, sehingga konsumen tertarik untuk membelinya. Sistem sortasi dan grading bermanfaat bagi penjual sekaligus konsumen buah. Sortasi dan grading dapat merangsang petani dan penjual untuk menghasilkan buah yang berkualitas, sehingga bisa meningkatkan usahanya. Bagi konsumen juga akan merasakan kemudahan untuk membeli buah duku sesuai dengan tingkat kualitas yang diinginkan.
Untuk melindungi buah duku agar tidak rusak selama pengangkutan, perlu dilakukan pengemasan yang baik. Dengan melakukan pengemasan , maka konsumen akan memperoleh buah yang masih baik dan tidak busuk, sehingga mutu buah tetap terjaga baik dan harga jualnya tidak turun. Keuntungan lainnya dari kegiatan pengemasan dapat mempermudah pengangkutan dan pemindahan dari satu tempat ke tempat lain.
Ada dua jenis bahan yang biasa dipakai untuk pengemasan duku, yaitu kayu dan karton. Gunakan peti kayu berukuran 37,5 cm x 32 cm x 27,5 cm dengan lubang ventilasi diantara papan satu dengan papan yang lainnya. Peti kayu sebaiknya dibuat dari papan kayu yang lunak, ringan,dan harganya murah. Sedangkan pengemasan duku dengan jenis bahan karton berukuran 34 x 32 x 27,5 cm dengan lubang udara pada sisi tegaknya saja. Jumlah lubangnya sekitar 3 – 4 lubang dengan diameter 2 cm. Untuk menghindari gesekan antara buah duku dengan dinding kemasan , pada bagian alas kotak perlu diberi lapisan jerami atau guntingan kertas. Bahan lapisan tidak dianjurkan menggunakan daun-daun atau bahan lain yang mudah berjamur sebagai alas, karena akan mempercepat pembusukan pada buah duku.

         Pengangkutan merupakan salah satu bagian penanganan pascapanen. Pengangkutan yang baik dapat mengurangi kerusakan yang ditimbulkan selain pengangkutan, sehingga buah duku sampai ditangan konsumen masih dalam keadaan segar. Syarat yang diperlukan untuk pengangkutan yang baik , antara lain hindari suhu panas dalam pengangkutan ; cara penyusunan kemasan dilakukan sebaik mungkin; pengangkutan dilakukan dengan cepat ; dan waktu pengangkutan sebaiknya pada malam hari agar terhindar dari terik matahari.

Rabu, 18 November 2015


Daerah yang cocok untuk menanam kentang adalah dataran tinggi atau daerah pegunungan dengan ketinggian 1000–3000 mdpl. Pada dataran medium, tanaman kentang dapat di tanam pada ketinggian 300-700 mdpl (Samadi, 1997). Keadaan iklim yang ideal untuk tanaman kentang adalah suhu rendah (dingin) dengan suhu rata–rata harian antara 15–20. Kelembaban udara 80- 90% cukup mendapat sinar matahari (moderat ) dan curah hujan antara 200– 300 mm per bulan atau rata–rata 1000 mm selama pertumbuhan (Rukmana, 1997).
Suhu tanah optimum untuk pembentukan umbi yang normal berkisar antara 15–18. Pertumbuhan umbi akan sangat terhambat apabila suhu tanah kurang dari 10 dan lebih dari 30 (Samadi, 1997). Tanaman kentang membutuhkan tanah yang subur, gembur, banyak mengandung bahan organik, bersolum dalam, aerasi dan drainasenya baik dengan reaksi tanah (pH) 5–6,5. Jenis tanah yang paling baik adalah Andosol dengan ciri–ciri solum tanah agak tebal antara 1–2 m, berwarna hitam atau kelabu sampai coklat tua, bertekstur debu atau lempung berdebu sampai lempung dan bertekstur remah. Jenis tanah Andosol memiliki kandungan unsur hara sedang sampai tinggi, produktivitas sedang sampai tinggi dan reaksi tanah masam sampai netral (Rukmana, 1997). Daerah yang berangin kencang harus dilakukan pengairan yang cukup dan sering dilakukan pengontrolan keadaan tanah karena angin kencang yang berkelanjutan berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap pertumbuhan tanaman dan penularan bibit penyakit ke tanaman dan ke areal pertanaman yang lain.

Metode budidaya kentang dengan sistem guludan horizontal atau memotong lereng, sebagaimanakaidah teras, cukup efektif mengurangi laju erosi (Yunasfi, 2007; Zhang et al., 2004; Mastur et al.,1996). Namun, metode ini, jika diterapkan tanpa upaya modifikasi sifat fisik tanah seperti aerasitanah, berpotensi menurunkan produktivitas kentang akibat kondisi jenuh yang terjadi padaguludan terutama pada musim hujan (Soesanto et al., 2011).Pemebrian mulsa atau pemulsaan merupakan salah satu upaya pengendalian erosi yang cukupefektif dan ekonomis (Smets and Poesen, 2007). Pemulsaan dapat mengurangi kehilangan tanahsampai 85 % (Smith and Black, 2002). Mulsa alami yang disebarkan pada lahan pertanian, selaindapat melindungi permukaan tanah dari percikan hujan, juga dapat memperbaiki sifat fisik tanahseperti menjaga kesetabilan suhu tanah, meningkatkan aerasi, dan permeabilitas tanah (Yuwonodan Rosmarkam, 2002; Sumiati, 1999). Mulsa alami yang sering digunakan di Indonesia adalahberupa mulsa jerami.

Senin, 16 November 2015

Sejarah Tanaman Asparagus
Tanaman sayuran merupakan salah satu tanamann hortikultura yang memiliki peluang yang baik untuk dikembangkan dikarenakan kesadaran masyarakat yang meningkat tentang kesehatan dalam mengkonsumsi makanan. Salah satu tanaman yang memiliki nilai tinggi adalah Asparagus. Budidaya Asparagus masih perlu ditunjang dengan sarana dan prasarana serta permodalan yang kuat. Tanaman Asparagus merupakan tanaman tahunan. Asparagus memiliki batang dalam tanah yang akan menumbuhkan rebung Asparagus. Sementara batang yang tampak diluar tanah merupakan tempat tumbuhnya cabang.
Asparagus dalam bahasa latinnya dikenal Asparagus officinalis merupakan sayuran musim semi yang tergolong dalam tanaman perennial atau tanaman yang dapat hidup lebih dari 2 tahun. Dulunya Asparagus dikelompokkan bersama tanaman keluarga lili (liliaceae) seperti bawang merah dan bawang putih. Tetapi kemudian dipisahkan karena ada perbedaan bentuk atau morfologi, merupakan tanaman asli dari daerah pantai barat Eropa (dari bagian Utara Spanyol Utara ke Irlandia, Inggris dan Barat Laut Jerman), Afrika Utara dan Asia barat.
Asparagus telah dikonsumsi sejak 20.000 tahun yang lalu didaerah dekat Aswan, Mesir. Tanaman ini dikonsumsi sebagai sayuran dan obat-obatan, karena memiliki rasa yang lezat, dan bersifat diuretic. Asparagus digambarkan dalam dekorasi Mesir yang bertanggal 3000 SM. Masih di zaman kuno, Asparagus juga dikenal di Suriah, Spanyol dan Yunani. Bangsa Yunani dan Romawi kuno, mengonsumsinya dalam kondisi segar pada saat musimnya dan dikeringkan sebagian untuk stok musim dingin. Resep memasak Asparagus tertulis dalam buku resep Apicius (kumpulan reep masakan Romawi) buku III, pada abad ke-3 masehi. Asparagus liar (Asparagus racemosus) telah dgunakan sejak dulu di India dan beberapa bagian Asia sebagai obat tradisional.
CV Aspakusa merupakan salah satu tempat yang melakukan usaha budidaya tanaman sayuran, salah satunya adalah asparagus. Pusat budidaya Asparagus di Teras-Boyolali di tempat yang dahulu merupakan kerjasama antara Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Boyolali dengan Misi Teknik Pertanian Taiwan di Indonesia. Benih Asparagus berasal dari Taiwan, yang kemudian dikembangkan di Indonesia.

A.  Klasifikasi Tanaman Asparagus
Tanaman Asparagus dalam istilah Botani disebut Asparagus officinalis yang termasuk dalam family Liliaceae. Berikut taksonomi tanaman asparagus :
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Magnoliophyta
Kelas               : Liliopsida
Ordo                : Asparagales
Famili              : Asparagaceae
Genus              : Asparagus
Spesies : Asparagus officinallis
Tanaman Asparagus merupakan tanaman sayuran yang dikonsumsi pada bagian rebungnya. Rebung Asparagus mengandung zat aspegirine yang berguna untuk memperbaiki pencernaan makanan dan melancarkan air seni.

B.    Prospek Tanaman Asparagus
Selain lezat diolah menjadi beragam masakan, asparagus juga mempunyai kandungan gizi yang sangat baik. Beragam mineral, kalsium, potassium, vitamin A, D juga E ada di dalamnya. Sayuran ini juga rendah kalor dan mengandung serat (dietary fiber) sangat tinggi. Serat dalam asparagus mampu mengikat zat karsinogen penyebab kanker dan membantu lancarnya proses pencernaan tubuh. Kandungan asam amino Asparagus merangsang ginjal membuang sisa metabolisme tubuh. Zat aktif lain dipercaya meningkatkan sirkulasi darah dan membantu melepaskan deposit lemak dalam dinding pembuluh darah. Sangat baik dikonsumsi bagi penderita eksim, gangguan ginjal dan prostat. Dalam Asparagus juga terkandung sifat diuretik yang mana berkhasiat untuk memperlancar saluran urin sehingga mampu memperbaiki kinerja ginjal. Asparagus merupakan sumber terbaik asam folat nabati, sangat rendah kalori, tidak mengandung lemak atau kolesterol, serta mengandung sangat sedikit natrium. Tumbuhan ini merupakan sumber rutin, suatu senyawa yang dapat memperkuat dinding kapiler.
Beberapa lembaga ilmiah telah melakukan uji klinis terhadap Asparagus. Terbukti sayuran ini mampu meningkatkan kesuburan pria. Kandungan asam amino Asparagus merangsang ginjal membuang sisa metabolisme tubuh. Zat aktif lain dipercaya meningkatkan sirkulasi darah dan membantu melepaskan deposit lemak dalam dinding pembuluh darah. Sangat baik dikonsumsi bagi penderita eksim, gangguan ginjal dan prostat.
Berikut Kandungan gizi yang terdapat dalam asparagus

 Kalori
 44 kal
 Protein
 4, 65 gram
 Air
 165 gram
 Serat larut
 1,15 gram
 Serat tak larut
 1,75 gram
 Karbohidrat
 7,60 gram
 Gula
 2,85 gram
 Lemak tunggal
 0,02 gram
Lemak jenuh
0,12 gram
Lemak ganda
0,23 gram

Sayuran ini termasuk jenis sayuran mahal yang biasanya hanya tersedia di restoran dan hotel. Oleh karena itu, sayuran ini kurang begitu dikenal di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Namun demikian, prospek pengembangan Asparagus ini cukup baik karena sayuran ini banyak diminati oleh masyarakat luar negeri sehingga ekspor komoditas Asparagus dapat meningkatkan devisa negara serta memberikan keuntungan bagi petani.

C.  Budidaya Tanaman Asparagus
Tanaman asparagus tumbuh pada daerah pegunungan tropis yaitu dengan suhu antara 10-13º C, dan pada daerah perbukitan ketinggian antara 200-1900m dpl. Tanah yang cocok untuk tanaman asparagus yaitu tanah podsolik merah kuning dengan curah hujan antara 2500-3500 mm setahun tanpa bulan kering. Beberapa teknik budidaya tanaman asparagus adalah:
1.    Pemilihan Bibit dan Persemaian
Asparagus merupakan tanaman yang ditanam secara tidak langsung melalui proses persemaian. Dalam pembibitan dengan biji terdapat 6 tahap:
a.         Persemaian
Dalam persemaian perlu diperhatikan pemilihan lahan yaitu lahan berdrainase baik, bukan bekas lahan tanaman asparagus, tanahnya gembur, subur dan berpasir. Bedengan tempat persemaian diberi dilakukan pengolahan tanah dan diberi pupuk dasar Furadan 3G untuk menghindari hama,



b.        Perendaman Benih
Benih yang akan disemaikan direndam terlebih dahulu dalam air dingin pada suhu 27ºC selama 24-28 jam. Selama perendaman, air diganti 2-3 kali. Biji yang mengambang dibuang.
c.         Semai Benih
Benih disemai pada tanah dengan jarak tanama 15x10 cm, dengan kedalaman 2,5 cm, setiap lubang ditanam 1 biji, lalu permukaan tanahnya ditutup jerami atau sekam dan disiram.
d.        Perawatan Persemaian
Dilakukan penyiraman pada pagi dan sore apabila tanah kering, penjarangan benih yang terlalu rapat tumbuhnya, penjarangan atap pelindung sesuai dengan pertumbuhan sampai kemudian atap diangkat pada saat seminggu sebelum tanam, penjagaan bibit  dari serangan hama dan penyakit serta pemupukan dengan pupuk kandang dan Urea/ZA serta TS/DS.
e.         Seleksi dan Pencabutan Benih
Pemindahan bibit dilakukan setelah 5-6 bulan dan yang akan dipindahkan adalah bibit yang sehat dan bibit yang dicabut segera ditanam, dan sebelum penanaman akar dipotong dan pucuk tanaman dipangkas hingga tinggi tanaman hanya ± 20 cm.



2.    Penanaman
a.         Pengolahan tanah
Sebelum penanaman, lahan yang akan ditanami Asparagus dibajak dalam dan merata. Dibuat parit dengan kedalaman 15-20 cm. untuk tempat tanam, jarak antar tanaman 40-50 cm dan jarak antar baris 1,25-1,5 m dan pada awalnya menggunakan pupuk kandang. Bibit yang ditanam adalah bibit yang sudah berumur 5-6 bulan. Penanaman dilakukan pada pagi hari sekitar jam 9 atau sore pada jam 4. Lahan segera dibersihkan kemudian diolah dan dibuatkan parit dengan kedalaman 75-90 cm, lalu tanah dibuat guludan. Selanjutnya tanah dibiarkan mongering selama 15 hari guna mencukupi kebutuhan oksigen lalu diberi pupuk kandang agar bahan organic cukup tinggi. Bila tanah masam, maka ditambahkan kapur agar pH sesuai dengan Asparagus.
b.        Penanaman
Sebelum penanaman dilakukan pemupukan dasar pupuk kandang yang dimasukkan kedalam parit dan dicampur tanah. Bibit Asparagus yang akan ditanam adalah bibit yang telah mencapai tinggi minimal 30 cm atau berumur 6-8 bulan. Jarak tanam Asparagus sekitar 50-60 cm.
3.    Pemeliharaan
a.    Pembumbunan
Apabila tunas sudah tumbuh dapat dilakukan pembumbunan. Saat musim hujan parit diperdalam, karena asparagus tidak menyukai genangan. Pembumbunan juga dilakukan tiap bulan sekali tergantung banyak sedikitnya rumput. Penjarangan dilakukan dengan membuang tanaman yang sudah tua/kering sehingga hanya terdiri dari 3-4 tanaman.
b.    Pemangkasan
Pemangkasan dilakukan setelah induk tanaman membentuk 8-10 batang, selebihnya dipangkas. Mendekati masa panen batang yang dipelihara cukup 3-5 batang. Pemangkasan dilakukan pada cabang dan batang yang terserang hama dan penyakit.
c.    Pengairan dan Drainase
Dilakukan dengan menggenangi parit setinggi setengah dari tinggi parit, ditunggu hingga air meresap sampai atas, kemudian sisa air dibuang.
d.   Pemupukan Susulan
Pemupukan dengan Urea/ZA dilakukan setiap 14-21 hari sejak bibit mulai tumbuh dan jumlahnya disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan. Pemupukan dengan pupuk kandang/kompos dapat diulangi setiap 4-5 bulan sekali. Pemakaian pupuk K dapat setiap 6 atau 8 minggu selama musim penghujan.
4.    Pengendalian Hama dan Penyakit
Penyakit yang sering menyerang adalah penyakit bercak daun. Penyakit ini menyerang daun hingga mengakibatkan daun menjadi berbercak kuning sampai kecoklatan. Penyebabnya adalah sebangsa jamur (Fungi). Pencegahan  penyakit ini adalah dengan penyemprotan fungisida yang mengandung bahan dasar tembaga antara lain bubur bordo, bubur burgundy dan insoluble coppers. Tanaman induk yang mati karena terkena hama atau penyakit dipotong dan diganti dengan membesarkan batang yang tumbuh normal.
5.    Panen dan Pascapanen
Asparagus dapat dipanen rebungnya pada umur 4-5 bulan setelah transplanting. Asparagus hijau yang dipanen adalah setelah muncul di atas tanah dengan kondisi pucuk yang masih kuncup. Panen dapat dilakukan dengan mencabut dan memotong batang muda. Pemanenan daun Asparagus dilakukan dengan memotong dahannya yang berkriteria daun tampak hijau tua, pada daun tidak terdapat bunga dan buah, bebas dari hama dan penyakit, serta batnang lurus, panjang batang lebih dari setengah panjang bagian berdaun serta kuat dan segar.

D.   Manfaat Tanaman Asparagus
Antioksidan dalam asparagus membantu mencegah pertumbuhan sel kanker dalam tubuh. Kandungan mineral dalam jus asparagus sangat membantu mengontrol kadar gula darah. Asparagyus juga sangat baik untuk jantung, jus asparagus yang dicampur dengan madu mentah jika dikonsumsi dua kali atau tiga kali sehari dapat menjaga kesehatan jantung. Asparagus diyakini mampu mencegah multiple sclerosis dan infeksi kandung kemih. Asparagus juga berguna bagi orang yang menderita tekanan darah tinggi karena mampu menurunkan tekanan darah. Asparagus bermanfaat untuk ibu menyusui karena membantu meningkatkan produksi susu serta mencegah masalah saraf pada janin. Asparagus dikenal memiliki sifat antivirus dan antijamur. Karena kaya akan vitamin K, asparagus bermanfaat untuk tulang dan mencegah kerusakan saraf otak sehingga bermanfaat bagi penderita penyakit Alzheimer.
Asparagus juga merupakan salah satu sumber antioksidan yang patut kita pilih, sayuran yang nikmat diolah menjadi sup ini menyumbang gluthation yang cukup banyak bagi tubuh kita, yakni sebesar 28,3 mg/100g. gluthation adalah antioksidan endogen yang efektif mengatasi berbagai macam radikal bebas. Ada empat macam pigmen dari asparagus yang memiliki kemampuan antioksidan yakni klorofil, betakaroten, lutein, dan cyaniding selain itu, kekuatan antioksidan yang dimilikinya juga didukung oleh fiabonoid erupa lignan.
Menrut dr.Noratus Horas dari Tirtayu Heallig center, antioksidan bisa berupa vitamin, mineral, enzim, yang ada dalam makanan dan suplemen tertentu. Berikut adalah beberapa antioksidan yang baik untuk tubuh :
a.              Asam ellagic
Senyawa ini banyak ditemukan dalam raspberry merah dan bisa dikatakan sebagai salah satu pelawan kanker yang paling ampuh karena memiliki sifat anti mutagenic.
b.             Proanthocyanidins
Antioksidan ini masih termasuk keluarga flavonoid. Proantho cyanidins adalah senyawa tang memberikan warna merah dan biru pada buah, dan telah terbukti bermanfaat untuk memperkuat kapiler, memperbaiki penglihatan dalam gelap, mendukung integritas dinding pembuluh darah dan mencegah pembekuan darah Proanthocyanidins dapat mengurangi resiko penyakit jantung dan kanker, dan melindung terhadap infeksi salura kemih.
c.              Gluathion
Gluathion adalah molekul yang sangat kecil dan merupakan anti-oksidan yang paling penting karena berada dalam sel. Molekul ini mampu menetralisasi radikal bebas, meningkatkan system kekebalan tubuh dan membantu hati mengeluarkan racun dari tubuh.
d.             Karotenoid
Karotenoid adalah mikronutrien larut dalam lemak yang dikenal dengan sebutan betakaroten (yang dapat dikomprensi menjadi vitamin A dalam tubuh). Mikronutrien ini dipercaya ampuh melawan radikal bebas, menghambat dan mencegah kanker serviks, paru-paru prostat, usus besar, endometrium dan kanker esophagus.
Disebutkan juga bahwa kandungan agen antikanker di dalam Asparagus mampu menyusutkan tumor, dan  meningkatkan produksi sel darah putih. Asparagus dalam melawan kanker tentunya mempunyai sifat antikanker diantaranya flavonoid yaitu kemampuan untuk melawan perkembangan kanker dan menghilangkan indikasi awal kanker; juga asam ferulat yang memiliki sifat antikarsinogenik dengan mencegah pertumbuhan pembuluh darah baru di sekitar sel kanker, dengan tidak adanya pembuluh darah, sel kanker akan kehilangan pasokan nutrisi dan oksigen sehingga pertumbuhannya terhambat.
Asparagus juga dapat melawan diabetes. Para ilmuwan yang tercatat dalam buku yang berjudul Asparagus menemukan bahwa asparagus dapat mengatasi penyakit metabolism. Mengkonsumsi Asparagus secara rutin merupakan cara terampuh dalam memerangi diabetes dengan menjaga kadar gula darah tetap terkendali.
Asparagus juga sangat bermanfaat dalam mencegah osteoporosis karena jika mengkonsumsi 1 cangkir Asparagus dapat memenuhi 114,8% dari kebutuhan tubuh akan vitamin K setiap harinya. Selain itu Asparagus merupakan sahabat bagi hati dan jagung, juga merupakan musuh insomnia. Hal ini disebabkan karena Asparagus kaya akan triptofan, vitamin B1. B2, B3, B6, mangan, serat pangan, tembaga, fosfor, kalium dan protein.
Manfaat lainnya adalah menjaga kadar gula darah dan tekanan darah stabil, menjaga kesehatan pencernaan dan peluruh kencing, mencegah lahir cacat, mengurangi keasaman darah, antiinflamasi, membantu kemoterapi pada pengobatan kanker, dan mencegah ISK (Infeksi Saluran Kemih).